Lifestyle
Home » Blog » Gen Z dan Mimpi Punya Rumah: Antara Harga Properti Melonjak dan Gaya Hidup yang Mengikat

Gen Z dan Mimpi Punya Rumah: Antara Harga Properti Melonjak dan Gaya Hidup yang Mengikat

Jakarta – Bagi Generasi Z (Gen Z), memiliki rumah kini bukan sekadar impian jangka panjang, tapi juga tantangan besar yang semakin sulit diwujudkan. Generasi muda yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini menghadapi tekanan ekonomi yang kompleks — mulai dari kenaikan harga properti, pendapatan awal yang terbatas, hingga beban finansial keluarga yang seringkali membuat tabungan terasa mustahil terbentuk.

Di satu sisi, mereka baru menapaki dunia kerja dengan gaji yang belum stabil. Di sisi lain, harga rumah di kota besar melonjak rata-rata 5–10 persen setiap tahun, membuat selisih antara penghasilan dan harga properti semakin lebar. Bagi banyak Gen Z, terutama yang tinggal di kawasan perkotaan seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya, membeli rumah pertama terasa seperti misi mustahil.

“Dulu orang tua kita bisa beli rumah di usia 25 tahun, sekarang anak muda harus kerja lebih dari 10 tahun dulu baru bisa DP rumah kecil di pinggiran,” kata Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch, dalam keterangan yang dikutip beberapa waktu lalu.

Ali menambahkan, riset terbaru menunjukkan bahwa Zilenial (gabungan Milenial muda dan Gen Z) sebenarnya memiliki minat lebih tinggi untuk memiliki rumah dibandingkan generasi Milenial yang lebih tua. Namun, tingginya harga properti dan perubahan gaya hidup membuat keinginan itu sulit diwujudkan.

Ribuan Warga Padati Kali Gabus, Mancing Bareng Tambun Utara Dihadiri Wapres RI

“Zilenial dan Gen Z ini justru punya keinginan kuat punya rumah. Tapi karena harganya sudah jauh naik dan penghasilannya belum besar, akhirnya mereka mengalihkan uangnya untuk hal lain seperti sewa tempat tinggal, traveling, atau gaya hidup ngopi,” ujarnya.

Fenomena “ngopi mahal tapi belum punya rumah” ini bukan sekadar lelucon internet. Menurut survei internal Indonesia Property Watch, sekitar 65 persen responden Gen Z mengaku lebih memprioritaskan pengeluaran untuk gaya hidup dan hiburan, sementara hanya 25 persen yang menyisihkan uang secara rutin untuk tabungan perumahan.

Namun, tak semua pengeluaran tersebut semata-mata karena konsumtif. Banyak anak muda kini harus ikut menopang keuangan keluarga — sebuah fenomena yang dikenal dengan istilah sandwich generation. Artinya, sebagian penghasilan mereka digunakan untuk membantu orang tua atau adik, sehingga ruang untuk menabung menjadi lebih sempit.

“Banyak Gen Z berada di posisi sulit. Mereka harus membiayai kebutuhan sendiri, keluarga, dan masih berusaha membangun masa depan. Dalam kondisi seperti ini, menabung untuk rumah bukan prioritas, tapi kemewahan,” kata Dini Rahmasari, ekonom sekaligus dosen perencanaan keuangan di Universitas Indonesia.

Meski begitu, peluang bagi Gen Z untuk memiliki rumah tetap ada, terutama dengan dukungan program pemerintah seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Selain itu, tren hunian vertikal atau apartemen mikro juga menjadi alternatif baru yang lebih terjangkau.

Apple Ecosystem: Keunggulan Konektivitas dan Integrasi yang Tak Terbatas

Dini menyarankan agar anak muda mulai mengubah pola pikir finansial dari sekadar konsumsi ke arah investasi. “Menabung bukan berarti berhenti menikmati hidup. Tapi kalau tidak mulai dari sekarang, lima tahun ke depan harga rumah bisa dua kali lipat. Dan semakin jauh dari jangkauan,” ujarnya.

Dengan harga properti yang terus merangkak naik, impian Gen Z untuk memiliki rumah memang tidak mudah. Tapi dengan perencanaan finansial yang cerdas, gaya hidup yang lebih seimbang, dan dukungan kebijakan yang berpihak pada generasi muda, harapan itu belum sepenuhnya pupus.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share