Politik
Home » Blog » Ayah Mahasiswa Unud Korban Perundungan Pilih Tak Lapor Polisi, Serahkan Kasus ke Kampus

Ayah Mahasiswa Unud Korban Perundungan Pilih Tak Lapor Polisi, Serahkan Kasus ke Kampus

Denpasar – Kasus dugaan perundungan yang menimpa mahasiswa Universitas Udayana (Unud) Bali berinisial TAS (22) masih menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Mahasiswa semester VII jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) itu ditemukan meninggal dunia setelah diduga melompat dari lantai empat gedung kampus di Jalan PB Sudirman, Denpasar Barat, Rabu (15/10/2025).

Ayah korban, Lukas Triana Putra, akhirnya angkat bicara mengenai kematian putranya yang diduga berkaitan dengan tindakan perundungan dari teman-teman kampusnya. Meski merasa kehilangan dan terpukul, Lukas memilih untuk tidak membawa kasus ini ke ranah hukum pidana.

“Saya tidak mau membawa ke pidana, karena saya juga tahu kalau saya punya anak. Kasihan juga orang tuanya kalau sampai diproses secara hukum. Biarlah pihak kampus saja yang menyelesaikan,” ujar Lukas saat ditemui di Polresta Denpasar, Sabtu (18/10/2025).

Lukas mengaku telah mendatangi Polresta Denpasar untuk mencari kejelasan atas kronologi kematian anaknya. Namun, ia menegaskan bahwa proses penyelidikan sepenuhnya ia percayakan kepada pihak kampus. Meski demikian, ia berharap agar kasus ini dapat diselesaikan secara adil dan transparan.

Sementara itu, pihak Polresta Denpasar telah menerima informasi terkait dugaan perundungan terhadap TAS. Kasi Humas Polresta Denpasar, Kompol I Ketut Sukadi, membenarkan adanya laporan tidak resmi mengenai dugaan tersebut.

“Terkait pembullyan itu memang kami dapatkan informasi bahwa ada beberapa rekannya yang melakukan. Namun untuk data lengkapnya kami masih menelusuri,” kata Sukadi, dikutip dari Kumparan.

Polisi saat ini masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengumpulkan bukti dan keterangan dari berbagai pihak. Belum ada penetapan tersangka maupun langkah hukum lain karena keluarga korban belum mengajukan laporan resmi.

Dari pihak kampus, hingga berita ini diturunkan, Universitas Udayana belum memberikan keterangan resmi terkait hasil investigasi internal. Namun, pihak rektorat dikabarkan sedang melakukan penelusuran internal dan mengumpulkan informasi dari mahasiswa yang diduga terlibat.

Kasus kematian TAS kembali membuka diskusi luas tentang maraknya perundungan di lingkungan pendidikan tinggi. Banyak pihak menilai, kejadian ini menjadi peringatan keras bagi institusi pendidikan agar tidak mengabaikan isu kekerasan nonfisik yang dapat berujung fatal.

Menurut sejumlah pengamat pendidikan, perundungan di kampus sering tidak terlihat karena dilakukan dalam lingkup sosial yang tertutup. Korban sering enggan melapor karena takut dikucilkan atau dianggap lemah. “Lingkungan kampus seharusnya menjadi tempat yang aman, bukan justru menimbulkan tekanan sosial,” ujar salah satu pengamat pendidikan tinggi di Bali.

Keluarga korban berharap kampus Unud mampu menyelesaikan masalah ini dengan tegas, sekaligus memperbaiki sistem pengawasan dan konseling mahasiswa. Lukas juga berharap agar kematian anaknya menjadi pelajaran bagi semua pihak.

“Saya hanya ingin kebenaran dan keadilan. Tidak ada lagi anak-anak yang mengalami hal seperti ini,” ucapnya lirih.

Kasus TAS menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia bahwa perundungan bukan masalah sepele. Di balik candaan, tekanan sosial, atau senioritas yang dianggap “tradisi kampus”, bisa tersimpan penderitaan yang tak terlihat dan berujung pada kehilangan nyawa.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share