Hanoi – Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena perpindahan basis produksi dari Tiongkok ke Vietnam semakin meluas, terutama sejak memuncaknya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Salah satu contohnya adalah perusahaan Huashuo Plastics, produsen papan plastik berongga asal Guangdong, yang kini telah memindahkan sebagian besar operasinya ke Hai Phong, kota pelabuhan di Vietnam utara.
Sebelum 2016, hampir seluruh kegiatan produksi Huashuo Plastics terpusat di Dongguan, kota industri di provinsi Guangdong, China bagian selatan. Namun, kini sekitar 80 persen produk perusahaan tersebut dikirim dari pabrik barunya di Hai Phong, yang berjarak sekitar 100 kilometer dari ibu kota Vietnam, Hanoi.
Huashuo Plastics memproduksi berbagai jenis papan plastik berongga yang banyak digunakan untuk membuat kotak pengiriman dan kemasan industri. Sekitar 90 persen hasil produksinya diekspor ke Amerika Serikat, dengan Amazon sebagai salah satu klien utama perusahaan itu.
Direktur utama Huashuo Plastics, Qiu Ji De, mengatakan kepada CNA (Channel News Asia) bahwa langkah pemindahan operasi ini merupakan bagian dari strategi besar perusahaan untuk menghadapi tekanan tarif tambahan dari AS terhadap produk-produk asal China.
“Sejak perang dagang AS–China dimulai pada 2018, banyak perusahaan China, termasuk kami, mulai menerapkan strategi China Plus One, yaitu dengan membangun basis produksi tambahan di luar negeri,” ujar Qiu.
Strategi China Plus One bertujuan mengurangi ketergantungan pada pabrik di China dan memperluas rantai pasok global, agar perusahaan dapat menghindari tarif impor tinggi yang diberlakukan terhadap produk buatan China. Dengan menempatkan fasilitas produksi di negara seperti Vietnam, barang yang diekspor ke AS tidak lagi dikategorikan sebagai produk asal China, sehingga dapat menghindari beban tarif.
Namun, langkah ekspansi tersebut tidak sepenuhnya mulus. Qiu menjelaskan, rencana perluasan pabriknya sempat terganggu dua kali. Pertama, akibat tarif “Hari Pembebasan” yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada April tahun ini, yang menargetkan sejumlah produk manufaktur Asia. Gangguan kedua terjadi pada Juli, ketika Trump memperkenalkan tarif baru sebesar 40 persen terhadap barang yang dianggap dialihmuat dari China ke AS melalui negara lain, termasuk Vietnam.
“Kebijakan baru itu membuat situasi semakin kompleks. Kami berusaha mengikuti aturan perdagangan internasional, tapi perubahan kebijakan yang cepat membuat perusahaan harus menyesuaikan diri dengan hati-hati,” jelas Qiu.
Meskipun menghadapi tantangan baru, Vietnam tetap menjadi tujuan utama bagi perusahaan China yang ingin mendiversifikasi basis produksinya. Negara ini menawarkan biaya tenaga kerja yang lebih rendah, akses logistik yang strategis, serta perjanjian perdagangan bebas dengan berbagai negara, termasuk Uni Eropa dan anggota ASEAN.
Selain Huashuo Plastics, sejumlah perusahaan besar seperti Foxconn, GoerTek, dan Luxshare Precision – yang menjadi pemasok utama Apple – juga telah memperluas fasilitas produksi mereka di Vietnam dalam lima tahun terakhir.
Pemerintah Vietnam sendiri menyambut baik arus investasi baru ini, namun juga menghadapi tantangan untuk memastikan kepatuhan terhadap standar lingkungan dan ketenagakerjaan. Ekonom lokal memperingatkan bahwa jika tidak diatur dengan baik, lonjakan pabrik asing dapat menimbulkan tekanan terhadap infrastruktur dan kualitas hidup masyarakat sekitar.
Meski demikian, tren relokasi industri dari China ke Asia Tenggara tampaknya belum akan berhenti. Dengan ketegangan perdagangan AS–China yang belum mereda, serta meningkatnya biaya produksi di daratan Tiongkok, Vietnam terus memperkuat posisinya sebagai pemain utama baru dalam rantai pasok global.


Comment